Cerita Sex Skandal Om Temanku

Diposting pada
Cerita Sex Skandal ini berjudul ” Cerita Sex Skandal Om Temanku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,.Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017. 
Cerita Seks – Weekend ini, Lusi, temanku satu sekolah SMU, minta aku menemaninya dirumah karena ortunya
harus ke Yogja untuk urusan keluarga. Gak taunya setelah aku sampai dirumah Lusi, dia juga harus
ikut ke Yogja juga. Jadilah aku sendiri.
Lusi mengatakan bahwa papanya telah minta om nya Lusi
untuk menemani Lusi. Ketika akhirnya Lusi harus ke Yogja, om nya lupa diberi tau. Aku sendirilah di
rumah Lusi, karena pembantunya biasanya weekend tidak masuk, maklum deh pembantu part
timer.

Cerita Sex Skandal Om Temanku

Cerita Sex Panas
Sabtu paginya aku terbangun karena kedengaran bel rumah berbunyi. Aku melihat jam, udah jam 10
lebih. Malemnya aku nonton dvd sampe subuh sehingga maklum deh bangunnya siang. Dengan
mata masih ngantuk aku keluar membukakan pintu. Ada lelaki, ganteng, tinggi besar dan tegap
badannya, tipe aku banget. Dia bingung melihat aku yang keluar rumah. Apalagi aku masih pake
seragam tidurku, celana pendek ketat dan tank top tanpa bra. Matanya jelalatan menyambar
tubuhku. “Lusi mana, dan kamu siapa?” tanyanya setelah masuk ke rumah. “Aku Ines, om, temen
Lusi satu SMU. Lusi akhirnya ikut ke Yogja. Lusi minta Ines untuk nemenin dia, eh malah ditinggal.
Tadi malem Ines sendirian”, jawabnya. “Saya Beni, Kalo tau tadi malem om nemenin Ines ya”,
katanya lagi sambil duduk di sofa.

“Ines mandi dulu ya om”, kataku sambil masuk kamar Lusi. Pintu kamar mandi tidak kututup karena
pintu kamar Lusi sudah kututup. Aku tidak sadar bahwa dia berdiri di pintu kamar mandi ketika aku
sedang menyabuni badanku di shower box. Memang boxnya tidak transparan, tapi cukup terang
untuk melihat bayangan tubuhku. Aku kaget ketika membuka pintu box hendak mengambil handuk.
dia sedang tersenyum memandangi tubuhku yang basah dan telanjang bulat. “Nes, kamu napsuin
amat. Masih SMU udah montok gini. Om jadi napsu nih ngelihatnya”, katanya sambil menarik
tubuhku ke dalam pelukannya. Bibirku langsung disambarnya dengan bibirnya. Aku jadi gelagapan,
tanganku mendorong dadanya, tapi pelukannya erat sehingga aku tidak berdaya dalam peulkannya.
Sementara bibirnya mengulum bibirku, tangannya mulai memerah toketku. Pentilnya dipilin2
sehingga pelan2 napsuku bangkit juga diperlakukan seperti itu. Dia melepas bibirku dan mulai
menciumi leherku yang masih basah. “Om, aah”, aku mulai mendesah. tangannya meremas2
toketku dengan kuat, pentilku sudah mulai mengeras. Dia rupanya tau bahwa aku mulai terangsang,
tangannya turun mengelus2 jembut lebatku yang masih basah, terus menembus jembutku dan
akhirnya sampe di i tilku. Rupanya dia ahli merangsang cewek, sebentar saja dikilik, aku sudah
terengah2. “Napa Nes”, tanyanya. “Enak om”, jawabku terengah. “Kita lanjutin yuk”, katanya sambil
menarikku ke ranjang.

Dia membuka pakaiannya. Aku terkejut melihat kon tolnya yang sudah ngaceng dengan kerasnya,
besar panjang dan berurat. Segera kon tolnya kugenggam, kukocok pelan, makin lama makin
cepat, tanganku bergerak turun naik mengocok kon tolnya. Diai mulai mendesah2 keenakan. “Om
keras banget deh, kon tolnya. Mana besar dan panjang lagi”, kataku sambil mengocok kon tolnya
makin cepat. “Emangnya kamu belum pernah ngeliat kon tol ya Nes”, katanya terengah. “Udah sih
om, tapi gak sebesar kon tol om”, jawabku. “Biasanya kamu ngocok kon tol siapa Nes”, tanyanya
lagi. “kon tol cowok Ines om, rasanya kon tol dia udah besar, tapi ngeliat kon tol om, kon tol dia gak
ada apa2nya”, jawabku. “Abis ngocok terus ngapain Nes”, tanyanya lagi. “Ya ngapain lagi om kalo
gak ngen tot”, jawabku. “Kamu sering ngen tot ya Nes”, tanyanya lagi. “Ampir tiap weekend om,
Ines kan suka nginep di rumah cowok Ines”, jawabku. “Weekend ini enggak dong”, katanya lagi.
“Tadinya Ines mau ngajakin cowok Ines nemenin Ines disini, tapi karena kata Lusi om mau dateng
ya gak jadi deh. Gak enak ama om”, jawabku. “Ya udah, sekarang ngen tot ama om aja ya”,
katanya. Aku masih terus mengocok kon tolnya, keatas kebawah sambil kuremas2. Tangannya
turun meremas toketku. Aku bisa memandang apa yang kita lakukan dari cermin besar yang
nempel di pintu lemari, persis didepan ranjang. Ini menambah rangsangan. Pentilku mulai
diplintir2nya sehingga mengeras lagi. “Pentil kamu besar ya Nes, pasti sering diemut ya”, katanya
sambil terus memlintir pentil bergantian dengan meremas2 toketku. “Iya om, cowok suka kaya bayi,
pengennya nenen melulu. Om juga dah pengen nenen kan”, jawabku. “Om yang pengen atau kamu
yang pengen pentil kamu om emut2”, jawabnya. “Pengen juga sih om diemut”.

Aku tetep memandangi cermin melihat semua aktivitas yang kita lakukan. me mekku mulai basah.
Tangannya memegang pentilku, ibu jari dan telunjuknya berputar, menarik, menekan pentilku. Aku
melihat tanganku yang mengocok kon tolnya, menggosoknya pada pipiku. Aku melihat ada cairan
keluar sedikit dari lubang di kepala kon tolnya dan aku oleskan cairan itu ke pipiku dengan
menggesekkan kepala kon tolnya ke pipiku. Aku menggosokkan ibu jariku di ujung kon tolnya,
menggosok cairan yang keluar itu ke seluruh bagian kepala kon tolnya sehingga mengkilat. Aku
menggosok kon tolnya pada pipiku lagi. dia memutar kepalaku dengan lembut. kon tolnya meluncur
melewati pipi dan menggosok bibirku. Secara naluri aku membuka mulutku, mulai menjilat kepala
kerasnya yang hangat. Aku melanjutkan mengocok kon tolnya ketika mulutku mengulum kepala itu.
“Nes, nikmat banget deh emutan kamu”, desahnya keenakan. Kujalankan lidahku naik turun
sepanjang kon tolnya sehingga menjadi berkilauan dengan air liurku. Saat mulutku berada pada biji
pelernya, dia mengangkat kon tolnya sedemikian rupa sehingga bijinya menggosok daguku. Aku
menjilat bijinya saat kon tolnyanya berada tepat di wajahku. Aku bisa merasakan panas dari kon
tolnya di wajahku. Aku mengerling ke cermin itu. Memandang dan merasa tangan besarnya
mencakup toketku yang montok. Aku kembalikan tatapanku pada kon tolnya, ketika jarinya dengan
lembut mulai memutari pentilku. Aku melihat pembuluh darah biru yang panjang di sepanjang
batang itu. Aku sapukan lidahku sepanjang pembuluh darahnya, dan kemudian menekan kepala
kon tolnya untuk membuka lubangnya sedemikian rupa sehingga aku menjilatinya.

Dia menghentikan aktivitasnya, mendorongku sehingga aku telentang di ranjang. dia menelungkup
diatasku dan mulutnya mengisap toketku sambil lidahnya menjilati pentilku. Tangannya pada
punggungku, memelukku erat, membelaiku saat dia menghisap toket yang kiri kemudian berganti
yang sebelah kanan. Saat dia menghisap dalam mulutnya, aku bisa merasakan lidahnya yang
menjilat, kemudian ketika mulutnya mundur, giginya dengan lembut menggigit pentilku. Dia
menggigit pentilku dengan pelan sambil merabanya dengan ujung lidahnya. Nikmat banget
rasanya. Tangannya mulai membelai kaki dan pantatku. Secara naluriah aku melebarkan kakiku,
mengundang tangannya pada me mekku. Dia mulai mengelus me mekku. Aku menoleh lagi ke
cermin, melihat bibirnya bekerja di sekitar toketku. Aku melihat pentilku tertarik keluar saat ia
menghisap dan menggigit dan menarik pentilku dengan mulut dan giginya. Aku melihat tangannya
menggosok me mekku. Aku melihat jarinya menghilang lenyap ke dalam rimbunan jembut lebatku.
Merasa jarinya meluncur menyentuh me mekku. Saat dia menggerakkan jarinya keluar masuk, aku
menggelinjang. “Enak Nes?” dia tersenyum. “Enak banget om, Ines dah pengen banget dien tot
om”, jawabku, kini giliranku yang terengah karena rangsangan pada pentil dan me mekku. Dia
menarik jarinya dan menjilatnya, dan kemudian menyodorkan jarinya kepadaku untuk dijilat.

Aku membuka lebar kakiku mengundang mulutnya kepada bibir me mekku. Menempatkan jarinya
pada me mekku, dia melebarkannya terbuka, menarik jembutku ke samping. Aku merasa sangat
bernapsu saat aku membayangkan pandangannya pada me mekku, daging merah muda yang
basah yang kini terpampang karena bibirnya yang terbuka. Aku gemetaran saat merasakan
lidahnya mulai menjilat me mekku. Lidahnya menekan ke dalam me mekku dan memukul-mukul ke
atas menyebabkan getaran ketika diseret melewati i tilku. “Om….”, lenguhku. Dia membenamkan
wajahnya ke dalam me mekku, lidahnya manari di dalamnya. Dia mulai menggosok i tilku seiring
dengan jilatannya pada me mekku. Aku mendorong pinggulku menekannya, kulingkarkan kakiku di
lehernya, lebih mendorongnya padaku. Aku melihat dia menguburkan wajahnya ke dalam me mekku
semakin dalam. Aku mendengar bunyi dia menghirup, menghisap cairanku. “Oohhh, om Ines
nyampe.” aku menjerit dan menggelinjang. Ini membuatnya bekerja lebih keras pada me mekku,
sekarang mengisap i tilku ketika jarinya disodokkan ke dalam me mekku.

Aku merasa seperti terbakar. Sekujur tubuhku terasa geli. me mekku sedang diregangkan. Aku tahu
bahwa dia sedang menekan jari yang lain ke dalam me mekku. Aku ingin merasakan kon tol
besarnya di dalamku. “Om, Ines dah pengen banget ngerasain kon tol om keluar masuk me mek
Ines, pasti enak banget ya om kemasukan kon tol sebesar dan sepanjang kon tol om.” “Kamu
diatas ya NEs”, katanya sambil membaringkan dirinya. Aku mendudukinya. kon tolnya mulai
kukocok2, panjangnya sampe menyentuh pusernya. Kebayang kemasukan kon tol sebesar dan
sepanjang itu, pasti nikmat banget deh. Saat aku menjalankan jariku naik turun pada kon tolnya, dia
minta aku mulai, “Gosok saja ke me mekmu.” Aku menunduk untuk menciumnya. Dia memelukku
dengan erat sehingga pentilku bergesekkan dengan dadanya. Aku menggerakkannya pelan-pelan
maju-mundur, menggesekkan pentilku kedadanya. Sementara itu aku merasakan kon tolnya beradu
dengan pantatku. Aku bergerak mundur untuk membiarkan kon tolnya meluncur diantara kakiku.
Aku bisa merasakan kon tolnya meluncur sepanjang bibir me mekku. Tidak menembus, aku hanya
menggesek naik turun kon tolnya yang keras itu, menikmati rangsangani dari kon tol keras dan
besar yang menekan ke dalam bibir me mekku, menikmati rasa dari pentilku yang menyentuh
dadanya.

“Masukkan Nes”, pintanya. Aku mengangkat kon tolnya dan menggosok kepalanya pada me mekku, kemudian menekannya berusaha untuk memasukkannya. Aku melihat kepala kon tolnya membelah bibir me mekku untuk menyeruak masuk. “Om, kayanya kon tol om kegedean deh, gak muat di me mek Ines”, kataku. Dia menempatkan satu jari di dalam me mekku dan pelan-pelan mulai mengocok jarinya saat aku tetap memegangi kon tolnya. Saat aku mengamati, aku lihat dia dengan lemah-lembut menekan jari keduanya ke dalam me mek basahku. Aku bisa merasakan
peregangan. Kemudian dia memasukkan jari yang ke tiga, memutar jarinya saat dia meregangkan me mekku. Kemudian dengan sebuah gerakan lembut, dia menarik jarinya, memegang tanganku yang sedang menggenggam kon tolnya dan menuntunnya ke arah me mekku yang sudah membuka. “Masukin sekarang Nes. Duduk di atasnya, me mekmu telah siap, biarkan saja masuk.”

Aku melakukannya. Aku merasa kepala kon tolnya membelah me mekku. Aku merasa sangat
nikmat dari tekanan pada me mekku. Dia mulai memompa ke dalamku dengan dorongan dangkal,
setiap dorongan menekan masuk semakin ke dalam me mekku. kon tolnya nampak bergerak lebih
dalam dan semakin dalam, menyentuhku sampe leher rahimku. Sekarang kon tolnya terkubur di
dalamku dia menggulingkan aku, menarik kakiku pada bahunya. Aku melihat dan mengamati kon
tol yang besar pelan-pelan meluncur keluar masuk tubuhku. Tetapi kemudian, aku menjadi lebih
terbakar pada setiap hentakan. “Om, enak banget om, enjot yang keras om,. aah”, erangku. Dia
mulai ke mengenjotku lebih cepat, lebih keras, dengan sela sebentar-sebentar saat kon tolnya
dikuburkan dalam di me mekku. Dan setiap kali dia berhenti dengan kon tolnya jauh di me mekku,
aku menggelinjang dengan hebat sampai akhirnya aku nyampe lagi. Aku ingin lebih. Dan aku
senang merasakan kon tolnya masih keras, masih mengenjotku dengan hentakan yang panjang dan
kuat. “Nes, me mek kamu peret banget deh, terasa banget empotannya. Kamu hebat ya Nes bisa
ngempot kaya begitu. Mau deh om ngen totin kamu tiap malem”, katanya. “Iya om, enjot terus yang
keras om, terus om”, kataku. “Nes, om dah mau ngecret, didalem atau diluar nih ngecretnya”,
katanya sambil terus mengenjot, malah lebih cepat lagi enjotannya. “Didalem aja om, Nikmat
banget deh kon tol om, Ines rasanya mo nyampe lagi deh om, terus enjot yang keras om”, teriakku
menggelinjang. Ia mengerang, menghentikan kocokan kon tolnya keluar masuk, dan hanya
menguburkan dirinya sangat dalam di me mek basahku. Ia mengandaskan kon tolnya didalam me
mekku dan aku tahu dia sedang ngecret. Aku berbalik menekannya, berusaha untuk memasukkan
kon tolnya sedalam-dalamnya di me mekku.

Aku merasa tubuhnya melemah, tapi dia tidak mengeluarkan kon tolnya dariku. Aku merasakan
kon tolnya melembut di dalam me mekku sekalipun begitu me mekku masih terasa nikmat dan
penuh, sangat hangat dan basah. Aku menciumnya. Kami hanya rebah di sana. “Om, lemes banget
deh rasanya”, kataku. “Tapi nikmat kan”, jawabnya tersenyum. “Nikmat banget om, Ines pengen om
en tot terus ya om”, kataku manja. “Ya kita kan punya waktu banyak Nes, stok pejuku masih banyak
kok untuk dingecretin di me mek kamu”. Setelah itu kami tertidur karena lelah dan nikmat.

Baca Juga cerita sex lainya di www.cersex.win hot-hot bikin sange

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *